Minggu, 14 Agustus 2016

BERBAHAGIALAH BAGI ANDA YANG SELALU RAJIN SHALAT DHUHA.



Pertama : orang yang shalat Dhuha akan diampuni dosa-dosanya oleh Allah. "Barangsiapa yang selalu mengerjakan shalat Dhuha niscaya akan diampuni dosa-dosanya walaupun sebanyak buih di lautan.”(HR. Turmudzi)

Kedua :*barangsiapa yang menunaikan shalat Dhuha ia tergolong sebagai orang yang bertaubat kepada Allah. "Tidaklah seseorang selalu mengerjakan shalat Dhuha kecuali ia telah tergolong sebagai orang yang bertaubat.”* (HR. Hakim).

Ketiga : orang yang menunaikan shalat Dhuha akan dicatat sebagai ahli ibadah dan taat kepada Allah. "Barangsiapa yang shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditulis sebagai orang yang lalai. Barangsiapa yang mengerjakannya sebanyak empat rakaat, maka dia ditulis sebagai orang yang ahli ibadah. Barangsiapa yang mengerjakannya enam rakaat, maka dia diselamatkan di hari itu. Barangsiapa mengerjakannya delapan rakaat, maka Allah tulis dia sebagai orang yang taat. Dan barangsiapa yang mengerjakannya dua belas rakaat, maka Allah akan membangun sebuah rumah di surga untuknya.”(HR. At-Thabrani).

Keempat : orang yang istiqamah melaksanakan shalat Dhuha kelak ia akan masuk surga lewat pintu khusus, pintu Dhuha yang disediakan oleh Allah. "Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah pintu bernama pintu Dhuha. Apabila Kiamat telah tiba maka akan ada suara yang berseru, ‘Di manakah orang-orang yang semasa hidup di dunia selalu mengerjakan shalat Dhuha? Ini adalah pintu buat kalian. Masuklah dengan rahmat Allah Subhanahu Wata’ala.” (HR. At-Thabrani).

Kelima : Allah menyukupkan rezekinya. "Wahai anak Adam, janganlah engkau merasa lemah dari empat rakaat dalam mengawali harimu, niscaya Aku (Allah) akan menyukupimu di akhir harimu.”(HR. Abu Darda`).

Keenam : orang yang mengerjakan shalat Dhuha ia telah mengeluarkan sedekah. “Hendaklah masing-masing kamu bersedekah untuk setiap ruas tulang badanmu pada setiap pagi. Sebab tiap kali bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah yang mungkar adalah sedekah. Dan sebagai ganti dari semua itu, maka cukuplah mengerjakan dua rakaat sholat Dhuha.” (HR Muslim).

Yaa Allah mudahkanlah kami untuk selalu mengamalkan sholat dhuha.

 Aamiin YRA

Selamat bertekad untuk selalu shalat dhuha

Jumat, 12 Agustus 2016

Ternyata dzikir obat mujarab untuk kesehatan

 Dr. Arman Yurisaldi Saleh dari RS Satyanegara Sunter - Jakarta, menyatakan bahwa dzikir itu menyehatkan. Ia menunjukkan lewat riset pada pasiennya di mana pasien yg berdzikir pulih lebih cepat di banding dgn yg tak berzikir.

Pasien yg mengalami persoalan alzheimer & stroke, akan lebih baik keadaannya setelah membiasakan dzikir dgn melafadzkan kalimat tauhid " Laa iIlaaha illallah " serta kalimat istighfar " Astaghfirullah ".
Menurut dia, dilihat dari ilmu pengetahuan kedokteran kontemporer, pengucapan " Laa iIlaaha illallah " serta " Astaghfirullah " bisa menyingkirkan nyeri & dapat menumbuhkan ketenangan dan kestabilan saraf untuk pasien. Lantaran dalam ke dua bacaan dzikir itu ada huruf JAHR yg bisa mengeluarkan CO2
dari otak.

Dalam kalimat " Laa Illaaha Illallah " ada huruf Jahr yg diulang tujuh kali, yakni huruf " Lam ", serta " Astaghfirullah " ada huruf " Ghayn ", " Ra ", serta dua buah " Lam " hingga ada 4 huruf Jahr yg mesti dilafazkan keras hingga kalimat dzikir tsb mengeluarkan CO2  semakin banyak waktu udara dihembuskan keluar mulut.

CO2 yg di keluarkan oleh badan tak mengubah pergantian diameter pembuluh darah dalam otak. Sebab, bila system pengeluaran CO2 kacau, jadi CO2 yang ke luar juga kacau hingga mengakibatkan pembuluh darah di otak bakal melebar begitu terlalu berlebih saat kandungan CO2 didalam otak mengalami penurunan.

Arti kedua kalimat tsb juga luar biasa dashyat " Tidak ada Tuhan selain Allah " dan " Ampuni kami " keduanya merupakan bukti bhw manusia hanya hamba Allah. Dg pengakuan yg ikhlas jg membuat otak pusat kendali tubuh relax dan merangsang endorphin yg mampu memacu penyembuhan atau rejuvenasi sel- sel yg rusak..

Dilihat dari tinjauan pengetahuan syaraf, ada hubungan yg erat pada pelafadzan huruf (Makharij Al-huruf) pd bacaan dzikir dgn aliran darah pernafasan keluar yg mengandung zat CO2  & system yg rumit di dalam otak pada keadaan fisik atau psikis spesial.

Nah sahabatku..... mari biasakan  memperbanyak dzikir dgn mengucapkan kalimat tauhid "Laa iIlaaha illallah" & kalimat istighfar "Astaghfirullah".

Wallahu alam bishawab

Belajar dari Kesungguhan Kiai Belajar


Prof Ahmad Chatib (Allah yarham) pernah bercerita beliau baru saja membeli sebuah buku dalam perjalanan di luar negeri. Kemudian beliau berpapasan di pintu dengan Gus Dur yang segera melihat buku bagus di tangan Prof Ahmad Chatib. Gus Dur bergegas ke dalam toko buku hendak membeli buku yang sama, tapi ternyata itu stok buku terakhir yang ada. Gus Dur kemudian cepat-cepat mengejar Prof Ahmad Chatib dan meminta beliau untuk meminjamkan buku tersebut.
Prof Ahmad Chatib, yang menceritakan kisah ini di kelas mata kuliah Filsafat Hukum Islam tahun 1994 di IAIN Jakarta, berkata: "terpaksa saya sodorkan buku itu kepada Gus Dur yang ingin sekali membaca buku tersebut". Selang beberapa lama setiap bertemu di Jakarta, Prof Ahmad Chatib selalu menanyakan nasib bukunya yang dipinjam Gus Dur itu. Akhirnya Gus Dur mengembalikan buku itu. Prof Ahmad Chatib terkejut setelah membukanya, "wah buku saya sudah penuh dengan catatan Gus Dur di sana-sini". Rupanya begitulah kesungguhan Gus Dur dalam menelaah sebuah kitab: sampai buku pinjaman pun dicoret-coreti.
Kisah kedua yang hendak saya ceritakan ini mengenai Kiai Abbas dari Buntet Pesantren. Saat Abah saya hendak mengaji kepada Kiai Abbas dengan membawa kitab Jam'ul Jawami', Kiai Abbas mengaku belum terlalu menguasai kitab itu, dan meminta Abah saya datang kembali membawa kitab tersebut beberapa hari ke depan. Rupanya Kiai Abbas menyimak dulu isi kitab ushul al-fiqh karya Imam al-Subki tersebut, dan kemudian setelah itu Abah saya dipanggil kembali dan Kiai Abbas dengan lancar mengajarkan isi kitab tersebut.
Dua kisah di atas saya ceritakan untuk menunjukkan kesungguhan para Kiai itu menuntut ilmu. Para Kiai itu membaca, menyimak dan memberi catatan isi kitab. Mereka menjadi alim bukan terjadi begitu saja. Sengaja diambil kisah dua kiai, yaitu KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Kiai Abbas. Kedua tokoh hebat pada masanya masing-masing ini lebih sering dibahas karomah beliau berdua ketimbang dikisahkan kesungguhan beliau berdua belajar menuntut ilmu.
Kiai Abbas, menurut penuturan Abah saya yang menjadi santri khususnya, sangat menguasai ushul al-fiqh dan ilmu fiqh perbandingan mazhab. Pengakuan Abah: "kuliah saya di al-Azhar Cairo terasa mudah dengan bekal ilmu yang sudah diajarkan Kiai Abbas". Yang terkenal kemana-mana itu adalah peristiwa heroik 10 November dimana Kiai Abbas merontokkan pesawat sekutu dengan lemparan biji tasbih dan bakiaknya. Tentu saja Abah saya juga menceritakan berbagai karomah gurunya ini, namun setiap saya tanya apa wiridnya, Abah cuma berpesan: "belajar yang rajin saja Nak, belum waktunya membaca wirid macam-macam, nanti kalau kamu sudah jadi Kiai, kamu akan mengerti sendiri hal-hal gaib dan ajaib yang kamu tanyakan itu. Sekarang baca buku lagi!"
Dan kini kalau saya ceritakan kepada para santri bahwa saya meraih dua gelar PhD di dua bidang berbeda, di dua negara berbeda, dan saya selesaikan pada waktu yang bersamaan, spontan yang mereka tanya: "wiridnya apa sehingga bisa seperti itu?" Jarang yang tertarik bertanya bagaimana kesungguhan saya belajar sehingga bisa menyelesaikan dua program PhD tersebut. Lebih menarik bertanya doa dan wiridnya. Mungkin disangkanya lebih mudah wiridan ketimbang membaca buku.
Pesantren itu sejatinya lembaga pendidikan, bukan semata tempat orang belajar mistik apalagi klenik. Ini yang harus ditegaskan karena banyak kesalahpahaman. Selain kesannya ndeso, pesantren itu dikesankan tempat untuk belajar ilmu gaib. Orang tua menjadi takut mengirim anaknya ke pondok. Pulang dari pondok hobinya nanti menangkap jin. Sementara para santri ada sebagian yang bukannya belajar dengan tekun tapi malah sibuk mau jadi waliyullah dengan berharap mendapat ilmu laduni. Bahwa Gus Dur dan Kiai Abbas memiliki karomah, tentu kita yakini itu. Tetapi karomah itu hanya bonus saja, hasil dari istiqamah para kiai yang luar biasa. Istiqamah menuntut ilmu dengan terus rajin belajar, membaca, berdiskusi, dan menulis --ini yang harus kita warisi dari para masyayikh dan guru-guru kita.
Ceritakanlah kepada khalayak bagaimana Mbah Sahal Mahfud membaca dengan tekun dan karenanya menulis berbagai kitab yang luar biasa. Di ruang tamu beliau berjejer kitab fiqh dari mazhab selain mazhab Syafi'i. Kitab dari mazhab Syafi'i malah ditaruh di bagian belakang. "Kenapa?" tanya Prof Martin van Bruinessen. Jawab Mbah Sahal kalem, "karena kitab dari mazhab Syafi'i sudah saya hafal semua."
Kisahkanlah di medsos bagaimana Kiai Ihsan Jampes mengarang kitab yang kemudian dijadikan rujukan di manca negara. Atau tolong mintakan kepada KH Ahmad Mustofa Bisri untuk berkenan bercerita proses kreatif beliau sehingga tercipta berbagai tulisan dan barisan puisi yang menyentuh jiwa dan mengundang kita untuk merenunginya.
Jikalau ini yang kita ceritakan, tidak semata soal karomah para Kiai, baru kemudian umat akan memahami bahwa pesantren itu juga gudangnya dunia ilmu pengetahuan. Dan mereka akan lebih apresiatif saat mengetahui bahwa zikir dan pikir telah menjadi satu tarikan nafas keseharian para Kiai.
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law Schoo

Belajar Ikhlas dari Wong Samin


Simon: "Kang, sampeyan ngasih duit ke si Parjo?"
Samin: "Iya."
Simon: "Sampeyan diapusi, dia itu kaya."
Samin: "Ngapusi aku iku dudu urusanku. Kui urusane dekne karo Gustine."
♡♡♡

Simon: "Lho sendalmu endi, kang? Kok cekeran?"
Samin: "Ilang."
Simon: "Ora mbok goleki sopo sing nyolong?"
Samin: Ora, aku biyen lahir yo ora sandalan."
♡♡♡

Simon: "Kang, sampeyan dirasani karo si Jontor."
Samin: "Ben wae."
Simon: "Sampeyan ora nesu."
Samin: "Lha saiki kowe yo ngrasani si Jontor. Si Jontor yo ra nesu."
♡♡♡

Simon: "Kang, pitikmu dipangan asune si Parman."
Samin: "Wis ben."
Simon: "Kok sampeyan biasa wae? Ora njaluk ganti?"
Samin: "Aku malah kaget nek pitikku sing mangan asune si Parman."
♡♡♡

Simon: "Kang, wis mangan?"
Samin: "Durung."
Simon: "Mreneo tak wenehi duit."
Samin: "Wegah. Aku ra doyan. Panganen dewe yen kowe doyan duit."
♡♡♡

Simon: "Kang, tanduranmu rusak dipangan weduse pak Karjo."
Samin: "Ben. Untung doyane tanduran. Yen weduse doyan papan, malah omahku sing dipangan."
♡♡♡

Simon: "Kang, kowe ki ket mau mlaku ngalor ngidul ora jelas?"
Samin: "Lha yo kui. Nek jelas, mesthi aku mlaku ngalor thok opo ngidul thok."
♡♡♡

Simon: "Kang, klambi sing mbok jemur dicolong uwong."
Samin: "Ben. Wong salahku dewe, aku njemur klambi nang njobo."
♡♡♡

Simon: "Kang, kok mlaku? Sapi sing biasa mbok tumpaki endi?
Samin: "Ilang... he.."
Simon: "Kok malah ngguya-ngguyu?"
Samin: "Lha untunge dicolong pas ora tak tumpaki."
♡♡♡

Simon: "Kang, bayarane Sentot luweh gede timbang kowe, lho."
Samin: "Ben."
Simon: "Kan ora adil?"
Samin: "Adil ora kudu podo. Kowe tak pakani katul podo karo pitik yo emoh to."
♡♡♡

Simon: "Kang, pelemmu dicolong si Tarkim!"
Samin: "Ben."
Simon: "Kok ben?"
Samin: "Lha kowe kok iyik to? Biasane dicolong codot wae aku yo meneng wae."
♡♡♡

Simon: "Kang, jare wingi omahmu kelebon maling?"
Samin: "Iyo."
Simon: "Kok iyo? Brarti sampeyan ngerti?"
Samin: "Ngerti. Tapi aku malah ndelik mergo isin ra duwe barang sing iso dimaling."

Rabu, 10 Agustus 2016

TAWASSUL SESUAI AJARAN NABI


Menurut Mufti Agung Mesir, Prof Ali Jum’ah, begitu banyak dalil tawassul yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan sahabat. Salah satunya adalah tawassul dengan amal shaleh seperti yang pernah diajarkan Nabi pada hadis shahih berikut ini. Pernah juga seorang sahabat bertawassul kepada Nabi dengan berdoa dan mendatangi makam Rasulullah untuk minta diturunkan hujan. Bahkan, Imam Malik, seorang ahli hadis dan imam mazhab fikih pun mencontohkan cara bertawassul kepada kita.

Abu Sa’id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang berdoa ketika ia keluar dari rumah untuk shalat (di masjid), hendaklah berkata: ‘Ya Allah…Sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kemuliaan semua orang yang memohon kepada-Mu, dan aku memohon kepada-Mu dengan perjalananku ini. Sesungguhnya aku tidak keluar (menuju ke masjid) dengan sifat angkuh, sombong, riya dan sum’ah. Aku keluar menuju masjid demi menghindari murka-Mu dan mengharap ridha-Mu. Aku mohon kepada-Mu agar Engkau menyelamatkanku dari siksa neraka dan mengampuni semua dosa-dosaku. Karena sesungguhnya tiada yang dapat mengampuni semua dosa, kecuali Engkau, ya Allah.‘

Maka Allah Ta’ala akan menurunkan 70.000 malaikat untuk memintakan ampunan ampunan baginya, dan Allah akan selalu mengawasinya sampai ia telah selesai mengerjakan shalatnya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)
Hadis ini jelas menunjukkan dibolehkannya bertawassul kepada Allah dalam doa dengan menggunakan amal shaleh yang kita kerjakan. Perjalanan orang yang dalam keadaan suci, berwudhu untuk shalat di masjid adalah satu bentuk tawassul. Begitu juga dengan perbuatan orang-orang shaleh yang memohon kepada Allah SWT adalah juga merupakan salah satu bentuk tawassul.

Bahkan, di zaman Khalifah Umar bin Khattab, sahabat Nabi pernah bertawassul kepada Rasulullah SAW dengan datang ke makam baginda Nabi. Kejadian ini terekam pula dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Mushanaf.
Sahabat Malik Ad-Dar, seorang bendahara Khalifah Umar bin Khattab r.a., menuturkan, “Musim paceklik melanda Kaum Muslimin di masa Khalifah Umar bin Khattab. Lalu, datang seorang sahabat bernama Bilal bin Harits Al-Muzani mengunjungi makam Rasulullah SAW. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu ini, karena sesungguhnya mereka benar-benar akan binasa.’

Kemudian, Rasulullah SAW menemuinya dalam mimpi. Beliau bersabda, “Temuilah Umar! Sampaikanlah salamku kepadanya! Kabarkan kepadanya bahwa hujan akan segera turun untuk mereka! Dan, katakan kepadanya, bersungguh-sungguhlah melayani umat!”
Kemudian, sahabat itu pun pergi menemui Khalifah Umar r.a. dan menceritakan apa yang telah dilakukannya, dan menceritakan mimpi yang telah dialaminya. Umar r.a. menangis, lalu berkata, “Ya Allah, aku tidak akan ceroboh lagi, kecuali apa yang aku tidam mampu lakukan.” (HR Ibnu Abi Syaibah). Hadis ini dinyatakan shahih oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Imam Malik r.a. pernah ditanya oleh Abu Ja’far Al-Manshur Al-Abbasi, “Wahai Abu Abdullah, apakah aku menghadap Rasulullah SAW, lalu aku berdoa, ataukah aku menghadap ke arah kiblat, lalu aku berdoa?”

Imam Malik menjawab, “Mengapa engkau mau memalingkan wajahmu darinya (Rasulullah SAW), sedangkan beliau adalah wasilahmu, dan wasilah kakek-moyangmu Adam a.s. kepada Allah kelak di Hari Kiamat? Maka, hadapkanlah kepadanya, mintalah syafaat kepadanya, niscaya Allah akan mengabulkan syafaatmu.”

Kisah ini terekam dalam kitab Fadhailu Malik karya Abu Al-Hasan Ali bin Fahr dan kitab Asy-Syifa karya Qadhi ‘Iyad. Konsensus empat Imam Mazhab fikih dalam Ahlussunnah wal jamaah pun menunjukkan bahwa tawassul kepada baginda Rasulullah SAW itu dibolehkan bahkan dianggap sunnah, baik ketika beliau masih hidup ataupun sudah wafat. Bertawassul kepada Nabi SAW melalui rangkaian doa merupakan sunnah.

--Prof Dr. Ali Jum’ah, Al-Mutasyaddidun Manhajuhum wa Munaaqasyatu Ahammi Qadhaayahum (Menjawab Dakwah Kaum Salafi)

MARI BERSAMA INTROPEKSI DIRI




Jika Imam Syafi’i merasa mendapat bencana saat melihat betis gadis yang tak sengaja tersingkap. Kita malah merasa mendapat nikmat meski tak diungkap.

Jika Sayyidina Umar bin Khottob menginfakkan kebun yang membuatnya ketinggalan shalat ashar. Kita malah biasa saja berulang kali tertinggal meski azan terdengar.

Jika Urwah bin Zubair tak terganggu salatnya saat pisau bedah mengamputasi kaki. Kita bahkan terganggu hanya karena nyamuk yang menggigit ibu jari.

Jika Nabi Ibrahim as.  sangat menyesal karena pernah berbohong meski seumur hidup hanya tiga kali. Kita malah santai saja meski jumlah dusta sudah tak terhitung lagi.

Jika Sayyidatuna ‘Aisyah menyesali mengatakan  “Shafiyah Si Pendek” yang bisa mengubah warna lautan. Lalu bagaimana dengan gunjingan dari mulut kita? Mungkin bisa membuat seluruh samudra menjadi busuk dan pekat kehitaman.

Jika Umar bin Abdul Azis bergetar menahan istrinya berbicara di ruangan yang diterangi pelita minyak yang dibiayai negara. Kita malah keasyikkan menggunakan fasiltas perusahaan seakan milik diri sendiri saja.

Jika serpihan pagar kayu rumah orang yang dijadikan tusuk gigi bisa membuat “Sang Kyai” tertahan untuk masuk surga. Kita malah woles saja menikmati mangga hasil jarahan kebun tetangga.

Sudah begitu …  pede pula meminta surga.

Astaghfirullah..!!
Memang hari ini dunialah yang nyata dan akhirat hanya cerita.

Namun sesudah mati, akhiratlah yang nyata dan dunia tinggal cerita.

Ya, Allah ampuni dosa dan khilafan kami. Satukan kami di surgaMu nanti.  Aamiin

_Selamat siang-

RENUNGAN PAGI

RENUNGAN PAGI *

_Setelah ayahnya meninggal dunia, seorang anak telah mengantar ibunya ke panti jompo. Dia datang menengok ibunya dari satu waktu ke waktu yang lain._
_Pada satu hari dia menerima panggilan dari panti jompo tersebut, yg mengabarkan kalau ibunya dalam keadaan diujung nyawa & hampir meninggal. Dengan cepat dia datang untuk berada di samping ibunya pada saat saat terakhir._
_Dia bertanya kepada ibunya : Apakah yang ibu ingin saya lakukan untuk ibu._
_Ibunya menjawab: Aku mau kamu sumbangkan kipas angin untuk panti jompo ini, kerana disini tidak ada kipas angin. Letakkan juga kulkas, tukang masak dan makanan, kerana sering aku tertidur dalam keadaan lapar tidak makan._
_'Ibu kenapa pada saat seperti ini baru ibu menginginkan semua hal ini ?' Anak itu bertanya kembali._
_Ibunya memberi alasan: Tidak apa apa anakku, ibu sudah bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan panas tanpa kipas dan lapar. CUMA IBU BINGUNG & TAKUT NANTI SAAT ANAK-ANAK KAMU MENGANTAR KAMU KE SINI KAMU TIDAK BISA MENYESUAIKAN DIRI'.._

Renungkan lah
 Apa rasanya kalau ibu/ayah kita sendiri yg mengirim pesan berikut?

Anakku...

Bila aku tua,
Andai aku jatuhkan gelas atau terlepas piring dari genggamanku,
Aku berharap kamu tidak menjerit marah kepadaku,
Kerana tenaga orang tua sepertiku semakin tidak kuat dan kerana aku sakit.
Pandangan mataku semakin kabur. Kamu harus mengerti dan bersabar denganku.

😔 Anakku...

Bila aku tua,
Andai tutur kata ku lambat/perlahan dan aku tidak mampu mendengar apa yang kamu katakan,
Aku berharap kamu tidak menjerit padaku,
"Ibu tuli kah ?",
"Ibu bisu kah ? "

Aku minta maaf anakku.
Aku semakin MENUA...

😟 Anakku...

Bila aku tua,
Andai aku selalu saja bertanya tentang hal yang sama berulang-ulang,
Aku berharap kamu tetap sabar mendengar dan melayaniku, seperti aku sabar menjawab semua pertanyaanmu saat kamu kecil dulu,
Semua itu adalah sebagian dari proses MENUA.
Kamu akan mengerti nanti bila kamu semakin tua.

😣 Anakku...

Bila aku tua,
Andai aku berbau busuk, amis dan kotor,
Aku berharap kamu tidak tutup hidung atau muntah didepan aku.
Dan tidak menjerit menyuruh aku mandi.
Badan aku lemah.
Aku tidak ada tenaga untuk melakukan semua itu sendiri.
Mandikanlah aku seperti aku memandikanmu semasa kamu kecil dulu.

😷 Anakku...

Bila aku tua,
seandainya aku sakit, temankan lah aku, aku ingin anakku berada bersamaku.

😭 Anakku....
Bila aku tua dan waktu kematianku sudah tiba, Aku berharap kamu akan memegang tanganku dan memberi kekuatan untuk aku menghadapi kematianku.
Jangan cemas.  
Jangan menangis.
Hadapi dengan keridhoan.
Aku berjanji padamu.
Bila aku bertemu Allah.
Aku akan berbisik padaNya supaya senantiasa memberkati dan merahmati kamu kerana kamu sangat mencintai dan mentaatiku.

Terima kasih banyak2 kerana mencintaiku....

Terima kasih banyak2 kerana telah menjagaku...
Aku mencintai kamu lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri..

🔴 *Menjadi peringatan & pelajaran untuk kita kalau kita masih ada ibu & ayah.
Silakan share postingan diatas ke WA group keluarga atau WA pribadi keluarga sendiri.
Sebab kita tidak mau kita atau anak2 kita senantiasa berdosa dengan ibu & ayah kita atau ibu & ayah mereka...*

RENUNGKAN LAH......
PADA SAAT INI KITALAH ANAK....DAN PADA SAATNYA NANTI KITALAH IBU/AYAH

Ini ingatan untuk saya juga, & kalau saya ada kesalahan , silakan tegur.
Karena kita cuma manusia yg memiliki banyak kesalahan